" Brian "
Menyebut nama itu membuatku selalu ingin berada di sampingnya. Dia yang dewasa, lembut, pengertian, cuek, tapi tetap asyik.
Menyebut nama itu membuatku selalu ingin berada di sampingnya. Dia yang dewasa, lembut, pengertian, cuek, tapi tetap asyik.
Itu yang membuat ku membedakan dia dari yang lain. Selain itu, aku juga banyak belajar tentang kehidupan dari dia.
Selama dua tahun terakhir hubunganku dengan dia memang baik-baik saja. Tapi, entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa ada yang beda, aneh...
Mungkin lebih tepatnya aku yang aneh. Aku yang lebih sering merasa bosan dengan apa yang selama ini sudah ku dapatkan, aku yang lebih sering menghindar, aku yang bosan dengan semuanya !
Mungkin itu semua karena aku merasa ada yang lebih yang ingin aku dapatkan. Sesosok orang yang lain. Sesosok yang akhir-akhir ini hadir mengontaminasi pikiranku.
Atau memang mungkin itu semua karena akhir-akhir ini aku lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-temanku di sekolah.
Setelah acara HUT sekolah selesai, aku dan teman-teman yang lain memang tidak seperti biasanya yang langsung menuju rumah masing-masing, tapi kami merencakan untuk naik gunung minggu depan. Tapi, sayangnya keputusan belum juga positif hingga keesokan harinya.
"Nan, gimana hasil rapat kemarin ?
minggu depan kita jadi nggak naik gunung ?" tanya Silvi yang kebetulan waktu itu dia tidak ikut rapat juga karena ada kepentingan lain.
"Mmm...aku juga nggak tahu, Vi ! coba tanya sama yang lain deh ! soalnya kemarin hasilnya juga belum positif." jelasku.
"Loh, kamunya sendiri mau apa nggak ?"
"Aku sih gampang aja ! kalau emang banyak yang ikut, kenapa aku nggak !"
"Oke deh, kita sama ya ?"
"Oke !"
Silvi memang teman sebangku ku yang kemana-mana selalu sama-sama. Dua hari kemudian, aku dan teman-teman berunding lagi.Dan kali ini harus dapat keputusan akhir.
Kita rapat sepulang sekolah di dalam kelas tercinta.
"Oke, kalau begitu kita positif naik gunung minggu depan !" seru temanku.
"Oke !" semua serentak.
Akhirnya hari itu tiba. Tetapi ada sedikit ketidak ikhlasan dalam hatiku hari itu, karena waktu itu "Brian", sesosok yang tidak pernah kuharapkan kehadirannya ternyata juga ikut.
Padahal teman-temanku, bahkan dunia pasti tahu kalau aku telah meng'claim' Brian sebagai musuh besarku.
Setelah acara naik gunung itu, hubunganku dengan Brian bukannya tambah akur,tetapi sebaliknya.
Tetapi, anehnya setelah Brian tahu aku benar-benar membencinya dia malah berubah 180 derajat. Brian yang tadinya sombong,angkuh,cuek,dan nggak pernah mau peduli dengan orang lain,berubah menjadi ramah dan care.
Sore itu, obrolan ringan dan frontal via sms :
from : 085749xxxxxx
Sore, Nan? Sorii ganggu, aku Rian.
Nan, aku cuma mau nanya kalo boleh tau kenapa sih km sensi banget sm aku?
apa aku pernah nyakitin km?
bls ya :)
to : 085749xxxxxx
Ga suka aja liat cwo sombong, angkuh
jujur aja, aku ngrasa km tuh sok banget jd cwo
mentang2 km terkenal di sekolah gtu, trus km bs seenaknya aja nyikapin smua orang yg yg butuh bantuan km? (sending message)
from :085749xxxxxx
Engga. bukan gtu, Nan. Oke, maaf banget kalo aku pernah nyinggung perasaan mu. makasi yaa atas comment nya :)
Engga. bukan gtu, Nan. Oke, maaf banget kalo aku pernah nyinggung perasaan mu. makasi yaa atas comment nya :)
Keesokan harinya Brian benar-benar bukan Brian yang selama ini kukenal. Dia beda !
"Pagi, Nan ?" sapa ramah Brian
Aku hanya diam, bingung dengan tingkah laku Brian. Dan itu berlangsung selam beberapa minggu.Akupun bertanya-tanya 'kenapa dengan Brian?'.
Dan itu semua membuat aku tidak konsisten dangan hatiku sendiri.Jujur,semua perubahan itu membuat dinding kebencianku terhadap Brian sedikit goyah,dan ya itu semua membuatku lupa akan sosok "Rian" selama ini. Sepulang sekolah aku menunggu Silvi piket.Dan tiba-tiba..
"Nan,kok belum pulang ?" sapa Brian mengagetkanku.
"Hah ?
eh iya, maksudku aku masih menunggu Silvi piket.
kamu sendiri kok belum pulang ?" jawabku kebingungan.
"Iya !aku masih nunggu dia.." jawab Brian sambil menunjuk seorang gadis dari arah kelas XI.
"Aku duluan yah, Nan?" pamit Brian.
Aku hanya bisa mengangguk tanpa jawaban.
Entah apa yang aku rasakan saat itu. Aku merasa ada keganjalan dalam hati kecilku.
Entah kenapa juga tiba-tiba aku merasa sakit hati dan kehilangan. Ataukah aku.....................???
Satu bulan kemudian setelah kejadian itu.aku dan teman-teman kembali mengadakan holiday bersama setelah ujian semester selesai. Kali ini tujuan kita adalah Pantai Seribu Cinta.
Disana aku dan Brian memang lebih sering terlihat akur dan bersama-sama.Atau lebih tepatnya Brian pedekate denganku di belakang Rini.Aku bingung apa yang merasuki pikiran Brian, tiba-tiba keesokan harinya...
"Aku suka sama kamu, Nan !
Aku sayang sama kamu !" kata Brian.
"..............??" aku hanya diam dan bingung.
"Nan, kamu mau nggak jadi pacarku ?"
"Kamu kenapa sih, Bri ?
"Kamu lupa atau pura-pura lupa dengan status kamu sama Rini ?
Aku nggak mau ngrusak hubungan kalian !" responku dengan nada tinggi.
"Aku tahu perasaan kamu, Nan.
Tapi aku akan mutusin dia besok."
"Apa ??
Kamu udah gila ya ? Kasihan tahu !"
"Tapi gimana lagi, Nan ? aku bingung,aku sayang kamu. Dan kalau boleh jujur sebenarnya aku nggak pernah cinta sama Rini.
Dulu dia nyatain cintanya,dan aku terima dia karena aku kasihan sama dia !
Karena aku sudah anggap dia sebagai adikku sendiri..,nggak lebih !" kata Brian.
Sejenak suasana hening....
"Nggak tahu, Bri .Kasih aku waktu !" kataku pelan.
"Oke, Nan."
Iya..memang waktu itu status Brian masih berpacaran dengan Rini, siswi kelas XI waktu itu. Setelah ku pikir-pikir mungkin Brian memang terkesan tidak punya perasaan. Tapi,apakah salah kalau Brian yang tidak pernah sama sekali berani mengungkapkan cintanya kepada kaum hawa karena memang selama ini dia hanya nenjadi sasaran 'tembak' ,kemudian tiba-tiba dia berani melakukan itu semua di hadapanku ?
Aku rasa tidak !
Entah kenapa hati kecilku berkata ada maksud lain dari semua perlakuan Brian selama ini.
Dan akhirnya satu minggu kemudian aku menerima Cinta Brian. Karena aku tahu Brian telah memutusakn Rini. Tetapi ada satu hal yang paling penting yang terlupakan,," Rian ".
Malam harinya,aku memutuskan untuk bertemu dengan Rian, cintaku yang sesungguhnya.
Dan mungkin pertemuan itu adalah pertemuan terakhirku dengan Rian.
"Rian, kamu tahu sendiri kan akhir-akhir ini kita sama-sama sibuk dalam dunia masing-masing ! Kita juga jarang bahkan sulit untuk bertemu sehari saja." Jelasku pelan.
".........?" Rian hanya diam.
"Aku pikir, lebih baik kita temenan biasa aja ya, Ian ?"
"Kenapa tiba-tiba kamu bicara gini, Nan ?" tanya Rian tanpa sedikitpun menatapku.
"Nggak kenapa-kenapa, Ian !Aku cuma mau kita temenan biasa aja,tanpa ikatan. Toh meskipun kita pacaran,kita nggak pernah bisa ketemu." suaraku mulai bergetar.
"Oke, kalau itu mau kamu !" jawab Rian dengan penuh kecewa. Dan mungkin pertemuan itu adalah pertemuan terakhirku dengan Rian. Tanpa sengaja aku mengetahui setitik air mata itu sedikit membasahi kelopak mata Rian. Akupun demikian, tanpa terasa air mata itu perlahan membasahi pipiku.
Sejak saat itulah hari-hariku tanpa Rian dimulai. Ya..sebelum aku menerima cinta Brian,ternyata tanpa diketahui statusku juga masih berpacaran dengan Rian.
Dua tahun..
Selama itukah aku merangkai cinta bersama Rian ?
Semua indah pada Cinta Pertama, Rian.
Dan semua itu lenyap HANYA dalam tiga hari aku begitu dekat dengan Brian.
Apa yang membuatku tertarik pada sosok Brian ?
Ternyata semudah itukah hatiku berpihak ?
Yah..mungkin lebih tepatnya aku dan Brian adalah sama !
Sama-sama penghianat…..!!
Setelah beberapa minggu aku jadian dengan Brian, tanpa sengaja dan tanpa diketahui Brian ,aku dekat dengan seseorang yang lain, " Erick".
Dia adalah kakak kelas adikku di SMA Tunas Harapan. Saat itu aku mengantarkan adikku ke sekolahnya untuk latihan basket,dan terpaksa aku harus menungguinya latihan hingga selesai.
"Hai, kamu kakaknya Riva ya ?" tanya seorang lelaki seumuranku yang sedang istirahat dari latihan.
"Iya !" jawabku cuek.
"Dari SMA mana ?" tanyannya.
"SMA Nesa ".
"Kelas berapa ?"
"Dua belas !"
"Kita sama donk.."
Dan begitulah seterusnya obrolanku dengan Erick terus berlanjut, Tak terasa kita ngobrol sampai latihan selesai.Setibanya dirumah,aku menerima sms dari Erick.
Entah dari mana dia mendapatkan nomorku.Pasti dari adik batinku kesal.
Sudah beberapa minggu aku kenal dengan Erick melalui sms,tetapi Brian belum mengetahui itu semua. Karena selama itu juga aku dan Brian lost contact.Karena aku memang telah berprinsip tidak akan menghubungi mantan musuhku sebelum dia dulu yang menghubungiku.Akhir-akhir ini aku memang lebih sering menghabiskan waktu bersama Erick selama ini,liburan bareng dia,sms-an sama dia,teleponan sama dia juga.Keesokan harinya, sewaktu aku berbicara dengan Brian, tanpa sengaja aku membuka sebuah sms dari seseorang yang bernama "Livia" ,mantan kekasih Brian yang isinya cuma ucapan terima kasih dan sayang.
Kesal..!
Keeseokan harinya aku berniat untuk memutuskan Brian.
"Bri, aku bosan dengan semua ini. Aku capek , Bri !" keluhku.
"Maksud kamu apa, Nan ?"
"Aku mau kita putus !
Kenapa kamu nggak pernah cerita kalau Livia masih mengharapkan kehadiran kamu di sisi dia, Bri ?" tanyaku.
"Maksud kamu apa, Nan ?"
"Aku sudah tahu semua,Brianku sayang !
Livia masih sering ngajak kamu kembali dari awal lagi kan ?
Dan aku juga tahu kalau selama ini kamu jarang sms aku karena sibuk balas sms-sms dari Livia,Rini,Clary,Dina,Fetrian,Rindi,dan cewek-cewek lain.
Ya kan ?" tanyaku sambil tertawa menyindir Brian.
"......?" Brian hanya terdiam.
"Kenapa,Bri ?
Udahlah, nggak usah takut mengakui kesalahan sendiri !"
"Oke, aku ngaku semua yang kamu omongin tadi benar !" jelas Brian.
"Brian, aku cuma mau pesan satu hal lain kali kalau mau bohongin seseorang hati-hati yah ! Belum tentu ternyata kamu malah dibohongin balik."
"Maksud kamu ?"
"Maaf ya,Bri sebelumnya? Sebenarnya, kamu nggak sendiri menjadi seorang penghianat !
Selama ini aku juga melakukan hal yang sama.Aku nggak pernah sms kamu karena aku sibuk balas sms teman baruku,Erick !"
"Aku juga minta maaf sama kamu, Nan?"
"Oke, kalau begitu kita impas ya ? Kita putus tetapi kita temenan kok. Oke ?"
"Iya !"
Dan sejak itu aku berstatus teman biasa dengan Brian.Aku tidak pernah menyangka kalau kisahku dengan Brian berakhir dengan kekompakan sebuah penghianatan.Tetapi satu hal yang aku percaya dari Brian, yaitu hal yang selama ini tidak pernah berani ia ungkapkan dan ia mengungkapkan untuk pertama kalinya kepadaku.Aku merasa puas dengan apa yang telah aku lakukan terhadap Brian. Karena,aku tahu selama ini Brian selalu berhasil mempermainkan seorang wanita,tetapi tidak sebaliknya.
Inilah salah satu misiku menerima kehadiran Brian di sisiku,karena aku aku ingin membuktikan kalau seorang wanita juga bisa menjadi seorang Adolf Hitler ketika ia dipermainkan.
©vranie.reynasyah4@gmail.com

Komentar
Posting Komentar